Pertemuan pada Ujung Senja
Dua bulan sudah Santika bertemu Mario.
Berawal dari pertemanan lewat medsos, lalu keduanya saling menyapa. Dalam waktu singkat mereka nyambung lebih dekat, hingga akhirnya saling merasa menyukai. Entah berawal dari obrolan apa, entah siapa yang memulai, dan tidak ada proses tembak-menembak. Semua ngalir begitu saja.
"Aku bahagia banget bisa nyambung sama kamu," kata Santika lewat telpon.
"Aku juga begitu, kamu sahabat kecilku, walaupun hanya sebentar. Namun kenangan indah itu masih melekat dalam ingatan." Mario mengenang masa kecil bersama Santika. Sambil tersenyum Santika pun mengingat kembali kenangan indah itu.
"Meskipun aku bukan yang pertama, tapi aku berharap kamulah yang terakhir dalam hidupku," Mario meyakinkan Santika.
"Kuharap juga kamulah orang yang mampu membahagiakanku di akhir usiaku hingga Tuhan memanggilku," jawab Santika sambil menitikkan air mata. Antara sedih, terharu, dan bahagia. Santika sedih mengingat selama ini tak pernah merasakan kebahagiaan sebahagia sekarang. Merasa terharu karena di usia yang tak muda lagi hadir sosok laki-laki yang mampu merebut hatinya. Dan merasa bahagia yang tak terhingga dirinya bisa menempati ruang hati Mario.
Hari-hari indah dilalui Mario dan Santika penuh keceriaan. Meskipun terkadang diselingi keributan kecil lantaran muncul rasa cemburu.
Namun bagi Santika sendiri merasakan hidupnya lebih berarti. Bunga-bunga cinta dan rindu mewarnai hari-harinya.
Hanya saja menjelang malam Santika merasakan penderitaan batin yang sangat luar biasa. Mario, yang siang harinya sibuk bekerja nggak ada waktu leluasa untuk komunikasi pada malam hari. Meskipun saat lembur masih menyempatkan diri menghubungi Santika. Keterbatasan waktu untuk komunikasi itulah yang membuat sedikit masalah bagi Mario, namun menjadi masalah besar bagi Santika. Bagaimana tidak, siang hari pun waktu Mario nggak full untuk komunikasi karena harus bekerja. Nggak di kantor, nggak di tempat proyek. Juga di rumah saat harus menyelesaikan pekerjaan. Santika harus punya kesabaran ekstra.
"Yang penting kamu udah menempati ruang hati hatiku, perhatian dan sayangku cuma untuk kamu," begitu ungkapan Mario. Kata-kata itulah yang mampu mengurangi beban pikiran Santika. Mario tetap milik Santika dalam kondisi apa pun dan di mana pun.
Beruntung Santika memiliki Mario yang penuh perhatian. Saat Santika cemberut karena dihinggapi rasa cemburu, dengan sabar Mario berusaha menghibur Santika. Dengan menggoda dan mengekspresikan mimik lucu akhirnya Santika luluh dan tersenyum kembali.
"Makasih ya sayang, kamu udah bikin aku tersenyum," kata Santika saat Mario video call.
"Ya udah, jangan cemberut lagi ya?" Mario dengan sabar berharap Santika nggak ngambek lagi.
"Ya udah kamu lanjut kerja aja, emmmuach...!" Senyum Santika mengembang. Mario pun sudah lega melihat Santika bisa tersenyum kembali.
Tuhan telah mempertemukan keduanya meskipun sebatas mimpi dan harapan. Pada ujung senja.
Komentar
Posting Komentar